//
you're reading...
Uncategorized

Berdirinya Mall STS Belum Datangkan Untung

Purwakarta, SENTANA

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purwakarta sedang mengkaji ulang kontrak kerja tempat mall Sadang Terminal Square (STS), Sadang dan tidak menutup kemungkinan akan memutuskan kontak dengan PT Wahana Cipta Sejahtera (WCS). Pasalnya, pimpinan perusahaannya dinilai tidak propesional dalam mengelola. Kenyataannya sejak berdiri belum mendatangkan untung untuk Pemerintah Daerah (Pemda), yang ada tunggakan bagi hasil atas kios sekitar Rp1,4 miliar lebih.

Ironisnya. Sanjaya, bos mall Sadang Terminal Square (STS) / PT. Wahana Cipta Sejahtera (WCS) dinilai sebagai pengusaha yang sangat arogan, tega dan sangat kejam terhadap para pedagang korban eks Terminal Sadang (warga setempat). Dimana ulahnya memerintahkan petugas mall melakukan pengusuran sepihak, terlebih barang dagangan pemilik kios yang masih diamankan anak buahnya, seperti yang dilangsir harian SENTANA edisi kemarin.

“DPRD sedang bekerja dalam mengkaji ulang kontrak kerja PT WCS dengan Pemda Purwakarta, karena bagi hasil kios yang ada di mall dan juga pajak pajaknya masih belum memenuhi target yang disetorkan ke kas daerah. Yang ada sejak tiga tahun terakhir adalah kerugian, dimana sangat berdampak ke penyusunan RAPBD. Terhitung sejak tahun 2007 masih ada tunggakan sekitar Rp 800 juta belum lagi pada tahun 2008, “tegas Ketua DPRD Kabupaten Purwakarta dr. H. Sigit Soeroso kepada SENTANA, Senin (1/12) diruang kerjanya. Hal yang sama juga dipaparkan Ketua Komisi II DPRD Purwakarta Richard Sompi. Menurutnya sudah lebih baik kontrak PT WCS diputuskan saja kalau memang pengusaha sudah tidak mampu mengelola maupun memenuhi kewajibannya. Kalau memang diputuskan kontrak, solusinya sangat banyak, bisa diambil alih oleh Pemerintah dan juga bisa.

Lebih lanjut Sigit Soeroso menambahkan, “saya sudah menyampaikan permasalah mall STS ini ke Komisi II DPRD untuk segera ditindaklanjuti untuk diambil tindakan tegas. Kalau memang tidak ada niat baik pengusaha, kita secapatnya akan mengundang Bupati. Karena sesuai dengan MoU, pihak perusahaan harus membayarkan sebesar 10 persen dari bagi hasil kios yang ada di mall itu. Pokoknya kita tunggu saja dulu perkembangan ya, “imbuh Sigit. tekoper (dipindahkan) ke investor lain. Kalau diambil alih pemerintah, saya melihat kalau mall STS sangat cocok dijadikan pasar daerah (pasar tradisional) mengingat daerah Kecamatan Bungursari belum ada pasar tradisionalnya, ”ujar Sompi kepada SENTANA kemarin.

Kata Richar Sompi, “saya melihat manajemen mall STS tidak profesional. Makanya sangat setuju diambil alih. Namun sebaiknya kami harus mengkaji dulu semuanya sampai tuntas agar tidak ada permasalah dikemudian hari. Yang harus dikaji adalah masa kontraknya selama 30 tahun sangat kelamaan, bagi hasil kios dan pajaknya, “katanya.

Keterangan SENTANA, “sekedar mengingatkan, mall STS tiga lantai ada diatas lahan 12 hektar persegi tanah milik negara. Hingga terjalin MoU Pemda dan PT WCS yang isinya, kontrak kerjanya selama 30 tahun. Dimana PT.WCS akan memberikan keuntungan sekitar Rp 1 miliar/ Tahun untuk APBD melalui tempat usaha gedung perbelanjaan dengan rincian sebesar 10 persen ruangan untuk Pemda dan sisanya sebesar 90 persen ruangan oleh PT.WCS sendiri. Ruangan gedung pusat perbelanjaan sebesar 10 persen itu, akan dikelola oleh pemerintah dan pendapatan setiap tahunnya sudah mulai masuk Angaran Perbelanjaan Belanja Daerah (APBD) sejak tahun 2006. Namun sejak Tahun 2007 – 2008 masih menunggak/ utang. (SON)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Klik tertinggi

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: