//
you're reading...
Uncategorized

Pihak STS Tak berhak Mengusur Pedagang

Purwakarta, SENTANA

Bila kita kaji dan teliti secara cermat, sumber utama korupsi di Indonesia dikarenakan pelakunya telah menempatkan uang ada diatas segala galanya, tanpa perduli rambu rambu larangan. Bangsa Indonesia yang dulu memiliki peradaban tinggi, sopan santun, punya semangat gotong royong, tolong menolong, kini telah berubah menjadi bangsa barbar sadistis yang sangat mengerikan.

Nah. Coba kita saksikan kasus pengusuran sepihak pedagang korban eks Terminal Sadang, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, prosesnya seakan akan seperti itulah yang menimpa korban pedagang. Kenapa tidak. JS Senjaya, bos PT STS mall (Sadang Terminal Square) maupun Dirutnya Junaedi jelas jelas tidak memiliki hak/ kewenangan bisa memerintahkan bagian Koperasi Mall STS untuk mengusur warga. Tetapi kenapa mereka masih berani memerintahkan?. Ada apa ini?. Itulah yang menjadi pertayaan berbagai kalangan sampai hari ini.

Sesuai dengan aturan berlaku yang dikeluarkan Pemerintah. Yang berhak mengusur pedagang korban eks terminal Sadang adalah petugas Satpol PP lewat lembaga pradilan. Bukan petugas Koperasi Mall STS. Pedagang bisa menempati kiosnya itu atas kesepakatan yang tertuang dalam surat perjanjian Nota Kesepakatan antara pedagang dan pemerintah setempat. Pihak mall STS dan pedagang sama sama numpang diatas tanah milik negara.

Terlebih. Bangunan Mall STS dibangun masih baru sekitar tiga tahun yang lalu. Sedangkan pihak warga pedagang sudah ada sejak puluhan tahun.Warga berdagang dan mendirikan rumah diatas tanah Pemerintah itu semasa ada Terminal Sadang. Terminal Sadang yang dulu terkenal sudah diganti dengan keberadaan Mall STS. Adanya mall itu meninggalkan bekas yang sangat mengerikan, karena mereka tak mendapatkan ganti rugi sewajarnya. Kios baru penganti ditempati, sekarang lagi lagi digusur. Warga dua kali kegusur.

Drs Mulyana E Gunawan, Kepala Bagian Ekonomi Setda selaku pihak kesatu yang mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta menegaskan, ”bahwa pihak Mall STS kurang profesional. Kenapa mereka sewena – wena kepada korban pedagang. Selama ini warga bisa berdagang diluar tempat STS sudah sesuai aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.

“Dimana bekas penghuni kios (9 orang -red) yang berdasarkan surat pernyataan ditempatkan kembali dibangunan pokok STS. Itu ganti rugi atas rumah mereka yang telah dibongkar. Kesepakatannya ditandatangani bersama diatas meterai antara warga dan saya selaku mewakili pemerintah (Nota Kesepatan-red), “tegas Mulyana kepada SENTANA.

Sedangkan korban gusuran mengatakan, “semua dagangan kami masih ada di gudang penyimpanan mall STS sampai hari ini. Ada 2 unit kulkas, bermacam merk dagangan, etalase panjang dan lain laninya. Barang itu diakut sendiri oleh pihak Koperasi Mall STS tanpa melibatkan yang punya. Saat itu saya masih ada di Jakarta. Yang memberitahukan dagangan saya diangkut adalah Nurdin yang mengaku Kepala Koperasi STS, dia yang menelepon.

Nurdin, Kepala Koperasi STS yang juga orang STS ketika ditemui SENTANA tidak ada ditempat. Menurut Bendahara Koperasi Yepi, “ dia jarang kesini, paling sekali seminggu setiap hari Rabu. Pengusuran dilakukan kewenangan aturan Koperasi STS sendiri saja setelah mendapat surat tertulis dari Dirut Mall STS Junaedi ke bagian Koperasi. Kami tidak tahu ada Nota Kesepakatan antara korban eks terminal Sadang dengan pihak Pemda Purwakarta. Hanya patuh sama pimpinan saja, “ujar Yepi. Sedangkan Dirut Mall STS, Junaedi maupun pemiliknya JS Senjaya belum bisa ditemui, karena keberadaan mereka ada di Jakarta. (SON)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Klik tertinggi

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: