//
Camat Cibatu, Kabupaten Purwakarta
Camat Cibatu Bantah Terima Suap Galian Pasir
Purwakarta, SENTANA
Diberi kulit, minta daging. Diberi gula, minta madu. Sudah diberi tunjangan tambahan lebih besar daripada pegawai negeri sipil yang lain, masih juga menerima suap. Itulah yang diduga telah dilakukan oleh pejabat Camat Cibatu, Budi Bunyamin. Pasalnya, setiap bulannya Budi disebut sebut oleh sejumlah orang sering menerima suap untuk pribadinya dari pengusaha galian pasir (galian C) di Desa Cipinang, Kecamatan Cibatu, Purwakarta. Uang bulanan dari pengusaha diterima Budi melalui mantan Kades Cipinang, Aking.
Ketika kebenarannya dipertanyakan langsung kepada yang bersangkutan Camat Cibatu Budi Bunyamin, dengan tegas dia membantah menerima uang. “Tidak benar saya terima jatah bulanan, itu bohong, siapa yang ngomong saya menerima suap bulanan?. Menurut saya kalaupun ada orang yang menerima jatah dari pihak pengusaha itu juga tidak akan meresahkan masyarakat setempat, “tegas Camat Cibatu Budi Bunyamin kepada SENTANA, diruang kerjanya, dikantor Kecamatan Cibatu, Senin (17/11) siang.
Menurut sumber SENTANA di kantor Desa Cipinang, “ Camat Cibatu Budi Bunyamin sering menemui mantan Kepala Desa Cipinang Aking untuk menerimah yang diduga uang jatah. Terkadang dia menyuruh pegawainya yang mengantarkan ke kantor Kecamatan Cibatu. Menerima uang dari pengusaha agar mau mengeluarkan kebijakan yang memudahkan terkait izin galian pasir di Desa Cipinang. “Kalau Camat tidak diberikan jatah bulanan itu akan bermasalah dengan pengusaha itu sendiri, “tegas.
Sementara itu, mantan Kepala Desa Cipinang Aking pada saat penghitungan suara pilkades Cipinang juga pernah mengungkapkan, “ pemberian uang kepada Camat Cibatu Budi Bunyamin tidak akan masalah demi kebaikan bersama. Toh juga uang itu didapat dari pengusaha galian pasir disini. Sesuai dengan peraturan desa (perdes) pihak pengusaha diwajibkan membayar/ dipungut sebesar Rp 20 ribu perrit (sekali jalan). Kalau dikalkulasikan sangat cukuplah untuk dibagi bagikan disamping untuk pembangunan sarana desa, “imbuh mantan Kades Aking kepada SENTANA.
Namun, ketika mantan Kades Aking ditanya berapa besar nilainya yang diterima oleh Camat Budi, Aking terkesan menutup nutupinya. Nilainya nggak seberapa, ratusan ribu saja perbulan. Dari raut wajahnya dia menutup nutupi nilainya sebenarnya yang tidak menutup kemungkinan angkanya sangat besar. Ketika ditanya sudah berapa lama diberikan, Aking mengungkapkan sudah lama saya tidak ingat berapa lama tepatnya. Saya pikir, pemberian uang dari galian pasir hampir semua merasakan, warga juga merasakan dan sebagainya, tanpa mau menjelaskan secara rinci.
Menanggapi hal tersebut, sejumlah warga menilai kalau benar apa yang dilakukan oleh Camat Cibatu dan mantan Kades Cipinang sangat menyalahi aturan dan penyalahgunaan wewenang. Saya melihat, kasus ini bisa dikategorikan atau sudah menjadi persepsi umum bahwa suap politik adalah salah satu bentuk kejahatan (evil). Si pelaku suap tidak menyadari bahwa tindakannya adalah bentuk kejahatan karena disangga oleh nilai tertentu. Misalnya, si pelaku merasa bahwa ia berhak mendapat insentif tambahan karena telah bekerja untuk rakyat. Atau si pelaku tidak merasa mencuri karena bukan uang negara tidak beralamat alias anonim. Akhirnya, korupsi pun menjadi sebuah kewajaran. Si pelaku berpikir, ”toh saya tidak merugikan keuangan negara karena saya hanya memakan bukan uang negara, ”cerita sumber Sentana. (SON)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Klik tertinggi

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: