//
Sejarah kemerdekaan 1

Menyelusuri Sejarah Komandan Batalyon Harimau Mengganas Yang Terabaikan

Jakarta , SENTANA

Moment dalam mengisi Kemerdekaan Indonesia ditanah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, kali ini difokuskan menyelusuri jejak sejarah perjuangan Komandan Batalyon Kesatuan Harimau Mengganas Tapanuli, Kapten Bongsu Pasaribu yang nyaris terlupakan. Ratusan robongan dipimpin langsung Bupati Tapanuli Tengah, Drs Tuani L.Tobing, LVRI Tapteng, Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul juga didampingi Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang diketuai Raja Johan Sitompul, tokoh masyarakat serta sejumlah wartawan cetak dan elektronik.

Rombongan dalam penyelusurannya mengunjungi tempat makam Komandan Muda Kapten Bongsu Pasaribu, ditempat Makam Pahlawan Sibolga, diteruskan ke tempat monumen perjuangan di Suga-suga, rumah keluarga dan rumah para veteran. “Di desa kelahiran sang komandan, rombongan menyaksikan rumah dan desa tempat kelahiran sang pejuang Kemerdekaan Nasional asal Tapteng itu, serta jembatan dan monumen untuk mengenang perjuangan sang komandan. Bersama rombongan, turut serta penulis buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, yakni Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing, “ujar Riduan Hamzah Pasaribu, Cucunya Kapten Bongsu Pasaribu kepada SENTANA, di Jakarta, Minggu (17/8).

Menurut Riduan Hamza, “pada tahun 1945, usia kapten masih relatif muda. Baru 22-an tahun. Tapi Kapten Bongsu Pasaribu sudah tampil sebagai Komandan Kompani (Kompi). Dua tahun kemudian, saat Agresi Belanda II pecah, Kesatuan Harimau Mengganas Tapanuli yang dipimpinnya sukses membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi Komandan Batalyon II (dua). Sayang, ia tertembak tewas dan kepalanya dipenggal putus, dipertontonkan ke masyarakat oleh Belanda di Harakka, Barus, tanggal 3 Maret 1947. Ia gugur di usia 24 tahun. Enam puluh satu tahun kemudian, barulah kisahnya dibukukan.

Bagi pembaca yang belum tahu, mungkin bertanya-tanya, siapa gerangan Kapten Bongsu Pasaribu?. Inilah secuil kisahnya, yang dirangkum SENTANA dari tulisan Riduan Hamza Pasaribu, cucu sang kapten. Delapan puluh lima tahun lalu, seorang bayi laki-laki lahir di Desa Suga-suga, Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah, persisnya pada tanggal 15 Juni 1923. Di desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Sibolga itu, pasangan suami istri yang sedang berbahagia, Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita Mopul br L, menamai bayi itu Bongsu Pasaribu.

Katanya, “Bongsu muda merantau ke kota kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara. Di Bandung , ia mampu masuk ke Kadester Shcool, hingga tamat. Selanjutnya, setelah tentara Jepang masuk ke tanah air Indonesia , Kapten Bongsu disuruh abangnya pulang kampung ke Hutagodang. Di masa itu, Kapten Bongsu sempat menjadi tentara Gygun dan menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir), di Kota Sibolga.

Singkat cerita, berakhirlah penjajahan Jepang di negara Indonesia . Pemerintah RI di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus Tahun 1945. Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada bulan Nopember 1945, dengan membentuk Angkatan Pemuda se-Kota Sibolga di bawah kepemimpinannya. Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat Komandan Kompani 1 yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat).

“Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia ) dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada Marhasam Hutagalung. Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul. Pada zaman itu, seluruh daerah Tapanuli dipimpin satu Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing. Untuk pengamanan daerah-daerah keseluruhan Tapanuli, dibagi atas berbagai sektor pertahanan”,kata sang cucu.

Agresi II Belanda

“Tahun 1947, Belanda melancarkan Agresi II di tanah air di seluruh pelosok Indonesia , termasuk ke Kota Sibolga/Tapteng. Pejabat tertinggi di Tapanuli waktu itu yakni Dr. Ferdinan Lumban Tobing bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean (Purn Jenderal di Orde Baru), langsung mengistruksikan kepada semua Komandan Raund, untuk mengatur pengamanan di daerahnya masing masing.

Komandan Sektor IV Maraden Panggabean membagi Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Kapten Bongsu Pasaribu menjadi satu satunya kepercayaan yang terpanggil dan menjadi Komandan Raund I (Kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di Sorkam dan Barus (Sibolga).

“Untuk memasuki Kota Sibolga, Belanda terlebih dahulu melakukan penembakan-penembakan dari jarak jauh, melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I Belanda. Perlawanan sengit pun pecah dengan pasukan tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan pimpinan Maraden Panggabean terbatas, pasukan terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut kota melalui laut pada tanggal 24 Desember 1948.

“Kapten Bongsu Pasaribu dengan pasukannya kemudian ditugaskan Komandan tertingginya, Maraden Panggabean, untuk bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya. Kapten Bongsu beserta pasukan pun berangkatlah menuju daerah Sorkam melalui bukit-bukit hutan, hingga sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan Sorkam, “kata sang cucu melalui tulisannya.

Gugurnya Sang Kapten

“Dalam perjuangannya, pasukan Komandan Kapten Bongsu sering mematahkan operasi-operasi tentara Belanda ke kampung-kampung. Tak senang, Belanda pun memperkuat mata-mata (kaki tangan) yang tersebar di Tapanuli. Untuk daerah Barus dan Sorkam, mata-matanya bernama Tajim Sitanggang, anggota Polisi Belanda. Kapten Bongsu pernah memburu dan menangkap Tajim Sitanggang, dan memperingatkan dirinya agar jangan menjadi mata mata. Tetapi Tajim melarikan diri dan bergabung lagi dengan pasukan tentara Belanda di Pasar Barus.

“Suatu hari, pasukan tentara Belanda melakukan operasi ke Bukit Hasang (Kecamatan Barus), bersama-sama dengan Tajim sebagai penunjuk jalan. Para Komandan beserta pasukan RI, di antaranya Komandan Sektor S bernama Majit Simanjutak dan P Hasibuan dibantu Komandan Raund III bernama Bagun Siregar dan pasukan Komandan Kapten Bongsu mengetahui operasi itu. Pasukan gabungan itu berangkat ke sana untuk melakukan pencegatan di tengah jalan.Tak ayal, perang besar pun pecah. Pertempuran selama satu hari satu malam itu membuat tentara Belanda sempat kocar-kacir terpisah dari pasukanya. Sebagian lagi tidak tentu arah pelariannya. Waktu peperangan yang terjadi pada malam hari itu sangat menguntungkan pasukan gabungan, hingga sebagian tentara musuh kabur dan lari ke pegunungan menuju ke kampung Purbatua. Banyak juga yang lari ke daerah perkampungan Harakka (Panguhalan Rihit).

“Di kampung Harakka, pasukan Kapten Bongsu terus melakukan pengejaran ke tentara Belanda, hingga terjadilah pertempuran sengit selama 3 jam, mulai pukul 09.00 pagi hingga siang pukul 12.00 WIB. “Dapat dikatakan, saat itu pasukan musuh banyak yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali, sebagian melarikan diri menyelamatkan nyawa masing masing karena kekurangan perbekalan maupun peluru senjata. Peperangan akhirnya berhenti, dan tidak ada lagi suara tembakan baik dari pihak kesatuan Harimau Mengganas, maupun dari Belanda. Mengira seluruh tentara musuh sudah gugur, kecuali yang melarikan diri, Kapten Bongsu beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Kapten Bongsu turun sendiri mengadakan operasi pembersihan, dengan memeriksa satu per satu mayat tentara musuh.

“Sayang, dia salah perkiraan. Setibanya di sana , ternyata masih ada dua lagi tentara Belanda yang masih hidup, yang sengaja bersembunyi di satu kubangan bekas kerbau. Di kubangan itu, kedua tentara Belanda ditemani Tajim Sitanggang (mata-mata) Belanda.

Melihat Kapten Bongsu berjalan kaki, tentara Belanda yang sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan. Tembakan bertubi-tubi tersebut berhasil mengenai kaki Kapten Bongsu satu peluru. Sang Kapten pun langsung tersungkur ke tanah. Tak puas, kedua tentara Belanda kembali memuntahkan peluru tepat mengenai kakinya lagi. Kapten Bongsu sempat membalas menembak dari senjatanya, sebelum akhirnya tidak berkutik. Namun seorang tentara Belanda tetap menembak.

“Tidak berapa lama, tentara Belanda datang menghampiri Kapten Bongsu. Selanjutnya, tentara itu mengakhiri hidup Kapten Bongsu dengan cara sadis, yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus. Hari itu tanggal 3 Maret 1947. Kepala yang terpisah dengan badan kemudian diangkat, dan dibawa pergi ke Pasar Barus untuk dipertontonkan kepada rakyat. Badannya yang masih tergeletak di tanah ditinggal tergeletak begitu saja di tempat dia dibunuh. Setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badannya dari leher ke kaki yang masih tergeletak di hutan, dijemput oleh pasukannya dan dibawa ke kampung Sijungkang. Di sana potongan badan itu dikuburkan.

“Sementara itu, tentara Belanda yang bermarkas di Barus terus mempertontonkan potongan kepala Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para tahanan. Maksudnya untuk melemahkan perjuangan pasukan Indonesia di Pasar Barus, agar gerilyanya melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada hari yang ketiga, potongan kepala Kapten Bongsu dikuburkan di Komplek penjara Barus.

Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret 1949, maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan kemudian diganti oleh Muliater Simatupang, tutur, “Riduan Hamza Pasaribu, sang cucu melalui tulisan ke SENTANA. (Rekson Hermanto Biro Purwakarta)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Klik tertinggi

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: